SERPONG-Mekanisasi pertanian merupakan salah satu komponen penting untuk pertanian modern dalam mencapai target swasembada pangan berkelanjutan.
"Bahkan kemajuan teknologi mekanisasi pertanian akan menjadikan pertanian
jaya sehingga Indonesia menjadi lumbung pangan dunia dapat diwujudkan," demikian tegas Menteri Pertanian Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaeman, MP. saat peluncuran Mekanisasi Modern Hortikultura, Kamis (24/08/2017) di Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan), Serpong.
jaya sehingga Indonesia menjadi lumbung pangan dunia dapat diwujudkan," demikian tegas Menteri Pertanian Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaeman, MP. saat peluncuran Mekanisasi Modern Hortikultura, Kamis (24/08/2017) di Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan), Serpong.
Pada kesempatan itu dikenalkan 24 alat dan mesin pertanian (alsintan) hasil rekayasa Balitbangtan diantaranya mesin otomatisasi perbenihan modern, penghancur tanah, pencampur tanah, penabur tanah, penggulud, pemasang mulsa, alat tanam, smart green house, alat panen, sterilisasi ozon, in-store controlled room (penyimpan), pengemas benih dan pompa hybrid.
Mentan menjelaskan teknologi mekanisasi pertanian dapat meningkatkan produksi sebanyak 10%, mengurangi kehilangan panen 10,2% dan mampu menghemat biaya produksi mencapai 40%. "Contohnya, dulu panen 1 ha membutuhkan waktu 25 hari, tetapi dengan kemajuan mekanisasi pertanian saat ini hanya 3 jam." ungkap Mentan.
Mekanisasi pun dapat menyelamatkan kehilangan panen padi 10,2 persen atau setara 7 juta ton nilai Rp 28 trilun yang diambil ke depanya. Kemudian dulu biaya untuk panen 2 juta per ha, tapi dengan teknologi mekanisasi hanya 1 juta per ha.
Kepala Balitbangtan, Dr. Ir. Muhamad Syakir, MS. menjelaskan bahwa penerapan mekanisasi pertanian dalam usahatani hortikultura merupakan salah satu bentuk transpormasi pertanian menuju modernisasi yang dicirikan produktivitas tinggi, efisien serta menghasilkan keluaran yang berkualitas dan bernilai tambah tinggi.
Dalam tiga tahun terakhir, Balitbangtan telah menghasilkan inovasi teknologi hortikultura, peternakan, perkebunan, mekanisasi pertanian dan pendukung bidang masalah lainnya seperti bioteknologi, pemetaan, pemupukan, dan juga pascapanen pertanian.
“Balitbangtan telah berhasil mengembangkan teknologi automatisasi sistem perbenihan modern untuk mendukung pengembangan produk hortikultura. Alsintan ini juga dapat digunakan untuk perbenihan komoditas lainnya. Pengembangan teknologi mekanisasi modern ini dikembangkan sampai paripurna, termasuk pengembangan kelembagaan produksi benihnya, baik swasta maupun kelompok tani,” tambah Kepala Balitbangtan.
24 prototipe alsintan yang diluncurkan tersebut adalah upaya pemenuhan program prioritas Pemerintah dalam pengembangan perbenihan hortikultura yaitu bawang merah 7.000 ha, cabai 15.000 ha dan bawang putih 200 ha.
Kebutuhan bawang merah khususnya pada saat-saat tertentu mengalami kenaikan dan seringnya tidak sejalan dengan musim panen. Kebutuhan bawang merah nasional tercatat sebesar 90 ribu ton per bulan.
Untuk memenuhi kebutuhan benih dalam pengembangan bawang merah, Balitbangtan pun telah menghasilkan inovasi benih botani atau True Shallot Seed (TSS).
Keunggulan inovasi TSS antara lain produktivitas tanaman meningkat karena tidak atau lebih sedikit membawa penyakit tular benih seperti virus dari pada umbi bibit, tidak ada dormansi dan daya simpan lebih lama (2 tahun), kebutuhan benih lebih sedikit (5–7 kg/ha) sehingga biaya benih murah, serta penyimpanan dan distribusi lebih mudah.
Unit alsintan automatisasi perbenihan persemaian TSS hasil inovasi Balitbangtan mampu menyiapkan benih sesuai dalam tray secara otomatis sebanyak 720 tray per jam, atau 75.600 benih umbi mini per jam atau setara dengan 604.800 benih umbi mini per hari bila bekerja selama 8 jam per hari. Sehingga unit alsintan untuk prosesing TSS tersebut mampu menyiapkan benih mini untuk sekitar 5 – 6 ha per hari.
Analisis usahatani dengan dukungan mekanisasi modern (alsintan yang dilaunching) dapat menekan biaya untuk bawang merah sebesar Rp 33.898.000/ha (efisiensi 45,0%) dan cabai sebesar Rp 28.628.000/ha (efisiensi 38,0%) dibandingkan secara manual.
Semua prototipe alsintan untuk hortikultura hasil Balitbangtan ini direncanakan akan diperbanyak oleh industri alsintan dalam negeri melalui kerja sama lisensi. Bahkan, hingga saat ini telah ada sekitar 40 perusahaan yang tertarik untuk memassalkan produk tersebut. (adm)SERPONG-Mekanisasi pertanian merupakan salah satu komponen penting untuk pertanian modern dalam mencapai target swasembada pangan berkelanjutan.
"Bahkan kemajuan teknologi mekanisasi pertanian akan menjadikan pertanian jaya sehingga Indonesia menjadi lumbung pangan dunia dapat diwujudkan," demikian tegas Menteri Pertanian Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaeman, MP. saat peluncuran Mekanisasi Modern Hortikultura, Kamis (24/08/2017) di Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan), Serpong.
Pada kesempatan itu dikenalkan 24 alat dan mesin pertanian (alsintan) hasil rekayasa Balitbangtan diantaranya mesin otomatisasi perbenihan modern, penghancur tanah, pencampur tanah, penabur tanah, penggulud, pemasang mulsa, alat tanam, smart green house, alat panen, sterilisasi ozon, in-store controlled room (penyimpan), pengemas benih dan pompa hybrid.
Mentan menjelaskan teknologi mekanisasi pertanian dapat meningkatkan produksi sebanyak 10%, mengurangi kehilangan panen 10,2% dan mampu menghemat biaya produksi mencapai 40%. "Contohnya, dulu panen 1 ha membutuhkan waktu 25 hari, tetapi dengan kemajuan mekanisasi pertanian saat ini hanya 3 jam." ungkap Mentan.
Mekanisasi pun dapat menyelamatkan kehilangan panen padi 10,2 persen atau setara 7 juta ton nilai Rp 28 trilun yang diambil ke depanya. Kemudian dulu biaya untuk panen 2 juta per ha, tapi dengan teknologi mekanisasi hanya 1 juta per ha.
Kepala Balitbangtan, Dr. Ir. Muhamad Syakir, MS. menjelaskan bahwa penerapan mekanisasi pertanian dalam usahatani hortikultura merupakan salah satu bentuk transpormasi pertanian menuju modernisasi yang dicirikan produktivitas tinggi, efisien serta menghasilkan keluaran yang berkualitas dan bernilai tambah tinggi.
Dalam tiga tahun terakhir, Balitbangtan telah menghasilkan inovasi teknologi hortikultura, peternakan, perkebunan, mekanisasi pertanian dan pendukung bidang masalah lainnya seperti bioteknologi, pemetaan, pemupukan, dan juga pascapanen pertanian.
“Balitbangtan telah berhasil mengembangkan teknologi automatisasi sistem perbenihan modern untuk mendukung pengembangan produk hortikultura. Alsintan ini juga dapat digunakan untuk perbenihan komoditas lainnya. Pengembangan teknologi mekanisasi modern ini dikembangkan sampai paripurna, termasuk pengembangan kelembagaan produksi benihnya, baik swasta maupun kelompok tani,” tambah Kepala Balitbangtan.
24 prototipe alsintan yang diluncurkan tersebut adalah upaya pemenuhan program prioritas Pemerintah dalam pengembangan perbenihan hortikultura yaitu bawang merah 7.000 ha, cabai 15.000 ha dan bawang putih 200 ha.
Kebutuhan bawang merah khususnya pada saat-saat tertentu mengalami kenaikan dan seringnya tidak sejalan dengan musim panen. Kebutuhan bawang merah nasional tercatat sebesar 90 ribu ton per bulan.
Untuk memenuhi kebutuhan benih dalam pengembangan bawang merah, Balitbangtan pun telah menghasilkan inovasi benih botani atau True Shallot Seed (TSS).
Keunggulan inovasi TSS antara lain produktivitas tanaman meningkat karena tidak atau lebih sedikit membawa penyakit tular benih seperti virus dari pada umbi bibit, tidak ada dormansi dan daya simpan lebih lama (2 tahun), kebutuhan benih lebih sedikit (5–7 kg/ha) sehingga biaya benih murah, serta penyimpanan dan distribusi lebih mudah.
Unit alsintan automatisasi perbenihan persemaian TSS hasil inovasi Balitbangtan mampu menyiapkan benih sesuai dalam tray secara otomatis sebanyak 720 tray per jam, atau 75.600 benih umbi mini per jam atau setara dengan 604.800 benih umbi mini per hari bila bekerja selama 8 jam per hari. Sehingga unit alsintan untuk prosesing TSS tersebut mampu menyiapkan benih mini untuk sekitar 5 – 6 ha per hari.
Analisis usahatani dengan dukungan mekanisasi modern (alsintan yang dilaunching) dapat menekan biaya untuk bawang merah sebesar Rp 33.898.000/ha (efisiensi 45,0%) dan cabai sebesar Rp 28.628.000/ha (efisiensi 38,0%) dibandingkan secara manual.
Semua prototipe alsintan untuk hortikultura hasil Balitbangtan ini direncanakan akan diperbanyak oleh industri alsintan dalam negeri melalui kerja sama lisensi. Bahkan, hingga saat ini telah ada sekitar 40 perusahaan yang tertarik untuk memassalkan produk tersebut. (adm)SERPONG-Mekanisasi pertanian merupakan salah satu komponen penting untuk pertanian modern dalam mencapai target swasembada pangan berkelanjutan.
"Bahkan kemajuan teknologi mekanisasi pertanian akan menjadikan pertanian jaya sehingga Indonesia menjadi lumbung pangan dunia dapat diwujudkan," demikian tegas Menteri Pertanian Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaeman, MP. saat peluncuran Mekanisasi Modern Hortikultura, Kamis (24/08/2017) di Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan), Serpong.
Pada kesempatan itu dikenalkan 24 alat dan mesin pertanian (alsintan) hasil rekayasa Balitbangtan diantaranya mesin otomatisasi perbenihan modern, penghancur tanah, pencampur tanah, penabur tanah, penggulud, pemasang mulsa, alat tanam, smart green house, alat panen, sterilisasi ozon, in-store controlled room (penyimpan), pengemas benih dan pompa hybrid.
Mentan menjelaskan teknologi mekanisasi pertanian dapat meningkatkan produksi sebanyak 10%, mengurangi kehilangan panen 10,2% dan mampu menghemat biaya produksi mencapai 40%. "Contohnya, dulu panen 1 ha membutuhkan waktu 25 hari, tetapi dengan kemajuan mekanisasi pertanian saat ini hanya 3 jam." ungkap Mentan.
Mekanisasi pun dapat menyelamatkan kehilangan panen padi 10,2 persen atau setara 7 juta ton nilai Rp 28 trilun yang diambil ke depanya. Kemudian dulu biaya untuk panen 2 juta per ha, tapi dengan teknologi mekanisasi hanya 1 juta per ha.
Kepala Balitbangtan, Dr. Ir. Muhamad Syakir, MS. menjelaskan bahwa penerapan mekanisasi pertanian dalam usahatani hortikultura merupakan salah satu bentuk transpormasi pertanian menuju modernisasi yang dicirikan produktivitas tinggi, efisien serta menghasilkan keluaran yang berkualitas dan bernilai tambah tinggi.
Dalam tiga tahun terakhir, Balitbangtan telah menghasilkan inovasi teknologi hortikultura, peternakan, perkebunan, mekanisasi pertanian dan pendukung bidang masalah lainnya seperti bioteknologi, pemetaan, pemupukan, dan juga pascapanen pertanian.
“Balitbangtan telah berhasil mengembangkan teknologi automatisasi sistem perbenihan modern untuk mendukung pengembangan produk hortikultura. Alsintan ini juga dapat digunakan untuk perbenihan komoditas lainnya. Pengembangan teknologi mekanisasi modern ini dikembangkan sampai paripurna, termasuk pengembangan kelembagaan produksi benihnya, baik swasta maupun kelompok tani,” tambah Kepala Balitbangtan.
24 prototipe alsintan yang diluncurkan tersebut adalah upaya pemenuhan program prioritas Pemerintah dalam pengembangan perbenihan hortikultura yaitu bawang merah 7.000 ha, cabai 15.000 ha dan bawang putih 200 ha.
Kebutuhan bawang merah khususnya pada saat-saat tertentu mengalami kenaikan dan seringnya tidak sejalan dengan musim panen. Kebutuhan bawang merah nasional tercatat sebesar 90 ribu ton per bulan.
Untuk memenuhi kebutuhan benih dalam pengembangan bawang merah, Balitbangtan pun telah menghasilkan inovasi benih botani atau True Shallot Seed (TSS).
Keunggulan inovasi TSS antara lain produktivitas tanaman meningkat karena tidak atau lebih sedikit membawa penyakit tular benih seperti virus dari pada umbi bibit, tidak ada dormansi dan daya simpan lebih lama (2 tahun), kebutuhan benih lebih sedikit (5–7 kg/ha) sehingga biaya benih murah, serta penyimpanan dan distribusi lebih mudah.
Unit alsintan automatisasi perbenihan persemaian TSS hasil inovasi Balitbangtan mampu menyiapkan benih sesuai dalam tray secara otomatis sebanyak 720 tray per jam, atau 75.600 benih umbi mini per jam atau setara dengan 604.800 benih umbi mini per hari bila bekerja selama 8 jam per hari. Sehingga unit alsintan untuk prosesing TSS tersebut mampu menyiapkan benih mini untuk sekitar 5 – 6 ha per hari.
Analisis usahatani dengan dukungan mekanisasi modern (alsintan yang dilaunching) dapat menekan biaya untuk bawang merah sebesar Rp 33.898.000/ha (efisiensi 45,0%) dan cabai sebesar Rp 28.628.000/ha (efisiensi 38,0%) dibandingkan secara manual.
Semua prototipe alsintan untuk hortikultura hasil Balitbangtan ini direncanakan akan diperbanyak oleh industri alsintan dalam negeri melalui kerja sama lisensi. Bahkan, hingga saat ini telah ada sekitar 40 perusahaan yang tertarik untuk memassalkan produk tersebut. (adm)SERPONG-Mekanisasi pertanian merupakan salah satu komponen penting untuk pertanian modern dalam mencapai target swasembada pangan berkelanjutan.
"Bahkan kemajuan teknologi mekanisasi pertanian akan menjadikan pertanian jaya sehingga Indonesia menjadi lumbung pangan dunia dapat diwujudkan," demikian tegas Menteri Pertanian Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaeman, MP. saat peluncuran Mekanisasi Modern Hortikultura, Kamis (24/08/2017) di Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan), Serpong.
Pada kesempatan itu dikenalkan 24 alat dan mesin pertanian (alsintan) hasil rekayasa Balitbangtan diantaranya mesin otomatisasi perbenihan modern, penghancur tanah, pencampur tanah, penabur tanah, penggulud, pemasang mulsa, alat tanam, smart green house, alat panen, sterilisasi ozon, in-store controlled room (penyimpan), pengemas benih dan pompa hybrid.
Mentan menjelaskan teknologi mekanisasi pertanian dapat meningkatkan produksi sebanyak 10%, mengurangi kehilangan panen 10,2% dan mampu menghemat biaya produksi mencapai 40%. "Contohnya, dulu panen 1 ha membutuhkan waktu 25 hari, tetapi dengan kemajuan mekanisasi pertanian saat ini hanya 3 jam." ungkap Mentan.
Mekanisasi pun dapat menyelamatkan kehilangan panen padi 10,2 persen atau setara 7 juta ton nilai Rp 28 trilun yang diambil ke depanya. Kemudian dulu biaya untuk panen 2 juta per ha, tapi dengan teknologi mekanisasi hanya 1 juta per ha.
Kepala Balitbangtan, Dr. Ir. Muhamad Syakir, MS. menjelaskan bahwa penerapan mekanisasi pertanian dalam usahatani hortikultura merupakan salah satu bentuk transpormasi pertanian menuju modernisasi yang dicirikan produktivitas tinggi, efisien serta menghasilkan keluaran yang berkualitas dan bernilai tambah tinggi.
Dalam tiga tahun terakhir, Balitbangtan telah menghasilkan inovasi teknologi hortikultura, peternakan, perkebunan, mekanisasi pertanian dan pendukung bidang masalah lainnya seperti bioteknologi, pemetaan, pemupukan, dan juga pascapanen pertanian.
“Balitbangtan telah berhasil mengembangkan teknologi automatisasi sistem perbenihan modern untuk mendukung pengembangan produk hortikultura. Alsintan ini juga dapat digunakan untuk perbenihan komoditas lainnya. Pengembangan teknologi mekanisasi modern ini dikembangkan sampai paripurna, termasuk pengembangan kelembagaan produksi benihnya, baik swasta maupun kelompok tani,” tambah Kepala Balitbangtan.
24 prototipe alsintan yang diluncurkan tersebut adalah upaya pemenuhan program prioritas Pemerintah dalam pengembangan perbenihan hortikultura yaitu bawang merah 7.000 ha, cabai 15.000 ha dan bawang putih 200 ha.
Kebutuhan bawang merah khususnya pada saat-saat tertentu mengalami kenaikan dan seringnya tidak sejalan dengan musim panen. Kebutuhan bawang merah nasional tercatat sebesar 90 ribu ton per bulan.
Untuk memenuhi kebutuhan benih dalam pengembangan bawang merah, Balitbangtan pun telah menghasilkan inovasi benih botani atau True Shallot Seed (TSS).
Keunggulan inovasi TSS antara lain produktivitas tanaman meningkat karena tidak atau lebih sedikit membawa penyakit tular benih seperti virus dari pada umbi bibit, tidak ada dormansi dan daya simpan lebih lama (2 tahun), kebutuhan benih lebih sedikit (5–7 kg/ha) sehingga biaya benih murah, serta penyimpanan dan distribusi lebih mudah.
Unit alsintan automatisasi perbenihan persemaian TSS hasil inovasi Balitbangtan mampu menyiapkan benih sesuai dalam tray secara otomatis sebanyak 720 tray per jam, atau 75.600 benih umbi mini per jam atau setara dengan 604.800 benih umbi mini per hari bila bekerja selama 8 jam per hari. Sehingga unit alsintan untuk prosesing TSS tersebut mampu menyiapkan benih mini untuk sekitar 5 – 6 ha per hari.
Analisis usahatani dengan dukungan mekanisasi modern (alsintan yang dilaunching) dapat menekan biaya untuk bawang merah sebesar Rp 33.898.000/ha (efisiensi 45,0%) dan cabai sebesar Rp 28.628.000/ha (efisiensi 38,0%) dibandingkan secara manual.
Semua prototipe alsintan untuk hortikultura hasil Balitbangtan ini direncanakan akan diperbanyak oleh industri alsintan dalam negeri melalui kerja sama lisensi. Bahkan, hingga saat ini telah ada sekitar 40 perusahaan yang tertarik untuk memassalkan produk tersebut. (adm)SERPONG-Mekanisasi pertanian merupakan salah satu komponen penting untuk pertanian modern dalam mencapai target swasembada pangan berkelanjutan.
"Bahkan kemajuan teknologi mekanisasi pertanian akan menjadikan pertanian jaya sehingga Indonesia menjadi lumbung pangan dunia dapat diwujudkan," demikian tegas Menteri Pertanian Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaeman, MP. saat peluncuran Mekanisasi Modern Hortikultura, Kamis (24/08/2017) di Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan), Serpong.
Pada kesempatan itu dikenalkan 24 alat dan mesin pertanian (alsintan) hasil rekayasa Balitbangtan diantaranya mesin otomatisasi perbenihan modern, penghancur tanah, pencampur tanah, penabur tanah, penggulud, pemasang mulsa, alat tanam, smart green house, alat panen, sterilisasi ozon, in-store controlled room (penyimpan), pengemas benih dan pompa hybrid.
Mentan menjelaskan teknologi mekanisasi pertanian dapat meningkatkan produksi sebanyak 10%, mengurangi kehilangan panen 10,2% dan mampu menghemat biaya produksi mencapai 40%. "Contohnya, dulu panen 1 ha membutuhkan waktu 25 hari, tetapi dengan kemajuan mekanisasi pertanian saat ini hanya 3 jam." ungkap Mentan.
Mekanisasi pun dapat menyelamatkan kehilangan panen padi 10,2 persen atau setara 7 juta ton nilai Rp 28 trilun yang diambil ke depanya. Kemudian dulu biaya untuk panen 2 juta per ha, tapi dengan teknologi mekanisasi hanya 1 juta per ha.
Kepala Balitbangtan, Dr. Ir. Muhamad Syakir, MS. menjelaskan bahwa penerapan mekanisasi pertanian dalam usahatani hortikultura merupakan salah satu bentuk transpormasi pertanian menuju modernisasi yang dicirikan produktivitas tinggi, efisien serta menghasilkan keluaran yang berkualitas dan bernilai tambah tinggi.
Dalam tiga tahun terakhir, Balitbangtan telah menghasilkan inovasi teknologi hortikultura, peternakan, perkebunan, mekanisasi pertanian dan pendukung bidang masalah lainnya seperti bioteknologi, pemetaan, pemupukan, dan juga pascapanen pertanian.
“Balitbangtan telah berhasil mengembangkan teknologi automatisasi sistem perbenihan modern untuk mendukung pengembangan produk hortikultura. Alsintan ini juga dapat digunakan untuk perbenihan komoditas lainnya. Pengembangan teknologi mekanisasi modern ini dikembangkan sampai paripurna, termasuk pengembangan kelembagaan produksi benihnya, baik swasta maupun kelompok tani,” tambah Kepala Balitbangtan.
24 prototipe alsintan yang diluncurkan tersebut adalah upaya pemenuhan program prioritas Pemerintah dalam pengembangan perbenihan hortikultura yaitu bawang merah 7.000 ha, cabai 15.000 ha dan bawang putih 200 ha.
Kebutuhan bawang merah khususnya pada saat-saat tertentu mengalami kenaikan dan seringnya tidak sejalan dengan musim panen. Kebutuhan bawang merah nasional tercatat sebesar 90 ribu ton per bulan.
Untuk memenuhi kebutuhan benih dalam pengembangan bawang merah, Balitbangtan pun telah menghasilkan inovasi benih botani atau True Shallot Seed (TSS).
Keunggulan inovasi TSS antara lain produktivitas tanaman meningkat karena tidak atau lebih sedikit membawa penyakit tular benih seperti virus dari pada umbi bibit, tidak ada dormansi dan daya simpan lebih lama (2 tahun), kebutuhan benih lebih sedikit (5–7 kg/ha) sehingga biaya benih murah, serta penyimpanan dan distribusi lebih mudah.
Unit alsintan automatisasi perbenihan persemaian TSS hasil inovasi Balitbangtan mampu menyiapkan benih sesuai dalam tray secara otomatis sebanyak 720 tray per jam, atau 75.600 benih umbi mini per jam atau setara dengan 604.800 benih umbi mini per hari bila bekerja selama 8 jam per hari. Sehingga unit alsintan untuk prosesing TSS tersebut mampu menyiapkan benih mini untuk sekitar 5 – 6 ha per hari.
Analisis usahatani dengan dukungan mekanisasi modern (alsintan yang dilaunching) dapat menekan biaya untuk bawang merah sebesar Rp 33.898.000/ha (efisiensi 45,0%) dan cabai sebesar Rp 28.628.000/ha (efisiensi 38,0%) dibandingkan secara manual.
Semua prototipe alsintan untuk hortikultura hasil Balitbangtan ini direncanakan akan diperbanyak oleh industri alsintan dalam negeri melalui kerja sama lisensi. Bahkan, hingga saat ini telah ada sekitar 40 perusahaan yang tertarik untuk memassalkan produk tersebut. (adm)






0 komentar:
Posting Komentar