
Upaya Khusus Percepatan Populasi Sapi dan Kerbau Bunting (UPSUS SIWAB) yang diluncurkan
oleh Kementan sejak 2016 lalu mencakup dua program utama yaitu peningkatan populasi melalui Inseminasi Buatan (IB) dan Intensifikasi Kawin Alam (Inka). Namun, untuk mengevaluasi konsep dan implementasi dari kegiatan SIWAB, perlu umpan balik dari kalangan yang lebih luas. Pada hari Kamis tanggal 31 Agustus 2017 telah dilangsungkan seminar rutin yang merupakan agenda bulanan Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSEKP) di Kantor Kementan Gedung A Jakarta dengan topik ”Evaluasi Konsep dan Implementasi Upsus Siwab”.
Ini merupakan seminar yang cukup strategis dan memiliki kaitan luas ke seluruh bagian di Kementan dan di luar Kementan, seperti Bappenas. Bahan seminar disampaikan seorang peneliti senior di PSEKP yang cukup intens terlibat dalam riset dan ujicoba program bidang peternakan di Indonesia yakni DR. Nyak Ilham. Presenter adalah Peneliti Utama di PSEKP yang banyak memndalami permasalahan baik mengenai teknis dan non teknis peternakan.
Pada intinya, seminar ini menelaah secara kritis konsep program upaya khusus sapi indukan wajib bunting, mengevaluasi implementasinya dan juga perkiraan dampak ekonomi program di masyarakat. Sebagaimana diketahui, Upsus SIWAB merupakan keberlanjutan dari program swasembada daging sapi/kerbau 2000-2004, 2005-2009, dan 2010-2014. Kemudian dilanjutkan beberapa program yaitu percepatan peningkatan populasi melalui Kegiatan GBIB (Gertak Birahi Dan Optimalisasi IB) dan Gangrep (Tahun 2015), dan Optimalisasi Reproduksi dan Penanganan Gangrep (Tahun 2016). Tahun 2017 ini, Upsus Siwab bertujuan untuk percepatan peningkatan populasi sapi dan kerbau bunting.
Seperti program-program lainnya, terdeteksi beberapa permasalahan dalam Program Siwab yaitu pedoman yang bersifat umum, keberhasilan implementasi yang sangat dipengaruhi kondisi lapangan yang berbeda menurut daerah, program menghadapi kondisi yang berbeda di tiap propinsi, dan berbagai masalah dan kendala lain. Untuk itu, perlu dilakukan kajian yang bersifat evaluasi dari berbagai pihak terkait baik di Pemerintah Pusat hingga di tingkat Pemda.
Secara teori, kerangka pikir siklus kerja dan faktor-faktor yang menentukan keberhasilan Program Upsus Siwab dimulai dari kondisi ternak betina sasaran, kondisi ternak pejantan atau petugas, fasilitas IB, dan kemampuan peternak. Penyusunan grand design yang baik telah dibuat seperti operasionalisasi Upsus Siwab, penetapan status reproduksi dan penanganan Gangrep, penyediaan semen beku, tenaga teknis, sarana IB dan pelaksanaan IB, distribusi dan ketersediaan semen beku, N2Cair dan kontainer, pemenuhan HPT dan konsentrat, pengendalian pemotongan betina produktif, serta sistem Monev dan pelaporan.
Sehingga diharapkan keluaran dan dampak secara langsung yaitu menghasilkan sapi bunting sejumlah 2,1 juta ekor pedet umur 2 bulan senilai Rp 8,4 Trilyun, serta dampak tidak langsung berupa pola kerja terukur, sistem pelaporan yang membaik, organisasi IB membaik, mengedukasi peternak, pemetaan distribusi semen, dan sekaligus kesempatan kerja bagi petugas.
Materi presentasi berasal dari studi di beberapa daerah contoh yakni di Provinsi Jawa Tengah (sebagai contoh daerah intensif), Aceh (sebagai contoh daerah ekstensif), Jawa Barat (sebagai daerah sentra sapi perah), dan Banten (daerah sentra kerbau). Secara operasional, target akseptor dan sapi bunting yang berhasil dicapai sebesar 73% atau 3 juta ekor dari jumlah potensi akseptor yang ditargetkan yaitu 5,9 juta ekor. Artinya masih ada sekitar 2,9 juta ekor atau sekitar 23% yang belum berhasil dalam target Siwab.
Tentunya manajemen organisasi dan SDM turut mendukung dalam keberhasilan program Siwab melalui gangrep. Hasil evaluasi dan pemantauan Siwab yang dilakukan di empat Provinsi cukup menggembirakan, dimana target akseptor versus target bunting dengan metode Ekstensif versus Kerbau bisa membantu dengan dukungan dana Siwab dan non Siwab.
Program Siwab yang merupakan amanat dari Peraturan Menteri Pertanian Nomor 48/Permentan/PK.210/10/2016 tentang Upaya Khusus Percepatan Peningkatan Populasi Sapi dan Kerbau Bunting menghadapi banyak tantangan. Salah satunya adalah penangan gangrep dan IB yang membutuhkan keahlian, serta harus terus dilanjutkan dan didukung fasilitas IB berupa kontainer di depo Kab/Kota. Untuk itu, komunikasi dan harmonisasi dalam pelaksanaan di lapangan merupakan kunci keberhasilan. Selain itu, pembagian peran ke depan adalah dimana pakan disiapkan peternak didukung UPT dan UPTD bibit HPT dan BPTP teknologi, introduksi IB kerbau perlu ditingkatkan dan perhatian terhadap budidaya kerbau. Target kebuntingan tiap daerah perlu disesuaikan dengan potensinya tanpa penyeragaman. Percepatan Bimtek IB dan PKB juga harus melibatkan UPT nonTupoksi di bawah pengawasan UPT Tupoksi Bimtek.





0 komentar:
Posting Komentar